Categories
Leadership Reflection

Manusia Panggung

Pagi ini, perlahan kukayuh pedal menuju timur. Seperti biasanya, perjalanan sepeda tak satupun yang pernah terencana. Mengalir begitu saja, mengikuti arah angin, dan menuruti rasa.

Dua puluh kilometer berjalan, sampailah di tepi perbatasan. Dari jauh, Candi Prambanan tampak menawan di sisi kiri perjalanan. Perlahan, kuarahkan jarak untuk kian mendekat. Sayup-sayup terdengar alunan gamelan di antara tanah lapang yang menghampar hijau.

Sesaat kemudian, sampailah aku di tempat yang menggugah memori masa lalu. Sepanjang 2005-2007, kuhabiskan waktu tiga kali sepekan di tempat itu bersama puluhan pemeran lainnya: Panggung Terbuka Ramayana.

Panggung Kehidupan

Meski bukan sebagai pemeran utama, kusematkan rasa pada setiap ucapan kata untuk membuka Sendratari Ramayana. Dengan balutan busana surjan, pengantar yang kusampaikan di puncak panggung menjadi tanda dimulainya pertunjukan cerita antara Rama, Sinta, dan Rahwana.

Kukejar ingatan lebih jauh. Dengan kapasitas hampir seribu kursi penonton, Panggung Terbuka Ramayana memaksaku belajar memaknai arti panggung sebagai simbol dalam kehidupan.

Pertama, panggung memberi ruang untuk pengembangan diri, melatih keberanian mengekspresikan diri. Melalui panggung, kita dipaksa menggerakkan semua cipta, rasa, dan karsa agar yang disajikan adalah karya terbaik yang dapat dilakukan.

Panggung tidak pernah memberi ruang toleransi untuk lupa, keliru, atau apapun yang bersifat rata-rata dan sekadarnya. Meski demikian, sanjungan yang ditawarkan panggung juga setara dengan tuntutan dan usaha yang dilakukan. Setiap letih yang terasa seketika terbayar saat riuh tepuk tangan meriah diberikan para tamu di akhir pergelaran.

Kedua, panggung melatih kita untuk berkompromi dengan ego dengan bekerja di dalam tim. Meski lampu sorot tertuju pada pembawa acara di awal pertunjukan Sendratari Ramayana, bukan berarti panggung menjadi miliknya sampai akhir acara.

Selayaknya pergelaran orkestra, Sendratari Ramayana terdiri atas puluhan penari dan pemain gamelan yang harus bekerja sama untuk meninggalkan kesan terindah bagi para tamu. Panggung yang demikian besar didesain untuk menampung semua pengisi acara, tidak hanya memberi ruang bagi Rama, Sinta, dan Rahwana sebagai pemeran utama.

Ketiga, panggung mengingatkan kita bahwa manusia tidak dapat berjalan sendiri untuk berhasil. Selalu ada peran dan tangan orang lain dalam setiap keberhasilan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.

Demikian halnya panggung. Meski semua pengisi acara telah berkarya dengan usaha terbaik, Sendratari Ramayana tidak akan berjalan tanpa peran tim produksi, house manager, dan tim artistik yang ada di belakang panggung. Semua punya peran penting untuk memastikan pertunjukan terbangun kokoh. Mulai dari produser, keuangan, keamanan, konsumsi, sampai penata cahaya, penata panggung, penata musik, serta penata rias dan busana.

Photo by Dawn Lio on Pexels.com

Karier Manusia Panggung

Banyak ilmu yang ditimba selama membawakan acara Sendratari Ramayana. Pengalaman singkat belasan pada tahun lalu itu tidak sekadar memberi ruang untuk memahami pengelolaan pertunjukan.

Meski sekadar simbol, nampaknya, tidak terlalu berlebihan untuk menyimpulkan bahwa sejatinya perjalanan hidup kita dapat dimaknai seperti peran yang kita mainkan dalam sebuah seni pertunjukan.

Dalam karier, tidak ada satupun manusia yang punya peran tunggal. Boleh jadi, kita adalah staf dari pimpinan kita, atau atasan dari tim yang kita pimpin. Namun tentunya, di sisi lain, kita juga bekerja untuk melayani para pemangku kepentingan. Kita semua punya banyak peran.

Sayangnya, sebagai manusia biasa, kadang kita lupa. Lupa mengingat bahwa peran kita tidak hanya satu. Lupa berkompromi dengan ego, seolah kitalah pemeran utama pada setiap pertunjukan. Lupa memahami bahwa ada ratusan tangan yang berperan dalam perjalanan karier kita. Lupa memindahkan lampu sorot, dan justru berharap agar sinar dan tepukan tangan meriah selalu tertuju pada kita. Hanya pada kita.

Sifat ini, jika terus terjaga, akan mengubah kita sebagai ‘manusia panggung’ dalam karier. Mudah demam jika tidak diberi etalase menunjukkan minat dan bakat. Mudah tantrum saat berbeda pandangan. Mudah menggigil jika tidak diberi ruang sebagai pemeran utama.

Manusia panggung, jika boleh demikian disebut, tidak akan muncul jika kita memaknai karier tidak sekadar sebagai jalan singkat untuk memuaskan ego diri dan memenuhi kebutuhan pribadi. Karier, pekerjaan, dan peran kita di dunia kerja, sejatinya adalah amanah Tuhan kepada kita untuk memahami, melayani, dan memuliakan sesama.

Betapapun, hidup adalah pilihan. Kita memiliki setiap hak untuk mengejar apa yang kita suka, termasuk menjadi manusia panggung yang selalu dalam sorotan. Jika jalan ini yang kita pilih, setidaknya, ingatlah bahwa terus berada dalam sorotan tidak selalu menguntungkan:

It is those who avoid the spotlight that tend to be doing the greatest things because their hearts are set on avoiding the lesser things.

Craig D. Lounsbrough

Epilog

Cahaya matahari kian menyengat. Tidak terasa, aku terlarut dalam kenangan belajar makna hidup di Panggung Ramayana. Episode kehidupan dengan pelajaran yang terus tersimpan baik dalam pikiran, sebagai pengingat saat lupa. Kini, saatnya beranjak meneruskan perjalanan.

Jadi, ke mana pedal ini kukayuh selanjutnya?