Categories
Reflection

Hutang yang harus dibayar

Bagi sebagian orang, kegagalan di masa lalu justru dilihat sebagai ketidakmampuan lingkungan dalam melihat potensi mereka. Jadi, salah lingkungan yang abai terhadap potensi mereka. Lalu, begitu mereka berpindah ke lingkungan yang baru, dan kemudian berhasil, kesuksesan mereka dipandang sebagai kepiawaian serta kesigapan sekitar dalam mencerap potensi dan mengapresiasi kemampuan mereka. Pandangan ini semakin dibenarkan sebagian kalangan dengan pola pikir serupa:

Carilah tempat dimana kau merasa dirimu dihargai bukan dibutuhkan, karena terkadang orang lain datang hanya ketika butuh tapi lupa caranya menghargai.

https://twitter.com/Moohd_Ilham/status/1094839570640777216

Cuitan di atas tentu tidak keliru, namun tidak sepenuhnya bijak. Kenapa? Karena pada dasarnya, manusia hanya dipertemukan dengan apa-apa yang mereka cari. Kalau yang dicari sebatas pada bagaimana kita dihargai, pikiran kita akan tertuju bagaimana cara lingkungan memperlakukan kita, bagaimana cara sekitar membahagiakan kita, bagaimana cara pasangan mencintai kita, dan sebagainya. Kita menjadi sibuk menilai kewajiban orang lain untuk memenuhi ego sendiri. Intinya, lingkungan harus memahami kita. Hasilnya? Kita menjadi pribadi yang mudah komplain, gampang menggerutu, dan mudah sedih.

Sebaliknya, sesungguhnya manusia yang waktunya habis digunakan untuk berjuang demi kebahagiaan orang lain, akan susah sedih. Baginya, bukan persoalan apakah dia dihargai orang lain dengan cara yang tepat atau tidak, karena yang dia cari adalah bagaimana ia dapat menjadi manfaat bagi sesama.

Photo by cottonbro on Pexels.com

UII dan hutang masa lalu

Sebelum mengabdi selama lebih kurang sembilan tahun terakhir, hidup saya sebenarnya pernah dipertemukan dengan UII saat masih menjadi mahasiswa. Sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Program Internasional, saya sempat mengenyam pendidikan beberapa semester di kampus nasional pertama di Indonesia tersebut.

Singkatnya, saya gagal. Karena memutuskan untuk bekerja sambil kuliah, saya kesulitan untuk mengelola waktu antara bagaimana harus menjamin kehadiran di kampus dengan mempertahankan kinerja di kantor. Tantangan ini sebenarnya mudah bagi sebagian orang, namun saat itu dengan pola pikir yang masih mentah, saya justru merasa bahwa kemampuan menghasilkan uang, meski tidak seberapa, lebih penting dari keterampilan mengasah cara berpikir dan bertindak. Ego dangkal anak muda.

Masih jelas dalam ingatan, hari Rabu pekan kedua Agustus 2006. Pagi hari yang awalnya nampak seperti biasa, saya memulai aktivitas dengan membalas korespondensi email luar negeri mewakili Panitia HUT ke-250 Kota Yogyakarta. Namun, pikiran seketika berkecamuk saat orang tua mengabarkan bahwa mereka telah menerima surat pemberitahuan bahwa saya tidak bisa lagi melanjutkan pendidikan di UII. Seketika, dalam pikiran saat itu: tamat.

Hari itu adalah momentum titik balik. Kepala seperti dibenturkan begitu keras, tersadar bahwa saya harus menata masa depan dengan lebih mapan.

Enam tahun berlalu, saya kembali ke Universitas Islam Indonesia sebagai pengajar muda. Banyak kisah yang sengaja tidak diceritakan pada tulisan ini tentang apa yang dihadapi selama enam tahun berjalan sebelum saya memulai karier di perguruan tinggi tersebut. Pendeknya, saya tekadkan kembali UII tidak sekadar untuk berkarya. Saya berniat membayar hutang masa lalu yang mungkin tidak akan pernah lunas terbayar. Hutang tentang belajar memenuhi tanggung jawab terhadap pilihan hidup. Dari titik tersebut, bekerja menjadi semacam panggilan jiwa, mewakafkan diri untuk belajar menjadi manfaat bagi sesama, melalui Universitas Islam Indonesia.

Bersambung…