Categories
Reflection Understanding Islam

Mendamaikan Hati, Melapangkan Dada

Menurut sebagian pendapat, hati kita memiliki pilihan untuk menjadi salah satu dari dua fungsi: menjadi tempat, atau menjadi alat.

Jika menjadi tempat, maka ia akan berfungsi laksana wadah air. Apabila wadah itu kecil, maka sedikit goncangan terhadapnya akan membuat air mudah terombang-ambing, tidak jarang justru meluap keluar dari wadah. Demikianlah gambaran orang yang mudah sempit pengetahuannya.

Semakin besar wadah, niscaya air akan semakin tenang. Oleh karenanya, tidak jarang kita juga dengar ungkapan hati seluas samudera. Arti dari ungkapan ini, hatinya begitu luas, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya, ia tidak mudah tersinggung atau patah asa.

Oleh karenanya, sudah sewajarnya setiap insan mendambakan kelapangan hati. Hatinya menjadi hamparan yang luas bagi semua rasa, menjadi tempat yang kuat untuk memahami dan menghargai sesama.

Dalam Alquran, kelapangan hati ini termasuk bagian dari karunia. Dalam surat asy-Syarh ayat 1-8, Tuhan telah mengindikasikan pentingnya berlapang dada (kalbu). Semakin lapang kalbu, semakin mampu menampung pengetahuan, iman, dan kebajikan. Dalam menghadapi situasi yang sulit, kelapangan kalbu adalah modal dasar untuk bertahan dan terus bergerak.

Selain menjadi tempat, hati juga dapat berperan lebih untuk memberi maslahat. Hati dapat berperan sebagai alat dan sumber kebaikan. Tentunya, meningkatkan peran hati dari sebatas tempat menuju ke alat bukan hal yang mudah.

Sebagaimana saat kita mencari sumber air jernih, maka sewaktu menggali sumur, kita memerlukan kekuatan dan konsistensi untuk mengeluarkan lumpur, pasir, kerikil, dan kotoran dari dalam tanah. Setelah semua kotoran keluar, maka air jernih akan terpancar dan menjadi sumber air yang dapat kita manfaatkan.

Demikian halnya hati. Untuk mencapai hati yang jernih, kita perlu melatih diri untuk mengeluarkan semua kotoran dalam hati kita. Kesombongan, riya, bangga pada diri sendiri, dengki dengan sesama, merupakan kotoran hati yang perlu kita bersihkan agar hati kita dapat menjadi alat untuk menebar kebaikan.

Dengan demikian, saya berpesan kepada semua lulusan Program Studi Hubungan Internasional untuk melanjutkan langkah kehidupan setelah ini dengan upaya menjadikan hati sebagai alat untuk menopang perjuangan menjemput masa depan.

Terkadang kita akan menemui kemudahan dalam perjalanan menuju masa depan, namun tidak jarang yang kita hadapi adalah kesulitan sebagai ujian kita untuk menempa kita menjadi pribadi yang kuat. Agar mampu menghadapi setiap episode kehidupan tersebut dengan baik, mudah-mudahan kita senantiasa diberi karunia kelapangan hati untuk melewati perjalanan dengan penuh arti. Amin. Wallahua’lam.

Artikel ini adalah nukilan dari sambutan Ketua Program Studi dalam Yudisium Program Studi Hubungan Internasional, 31 Juli 2020.