Categories
Reflection University

Kelulusan, Kematangan, Keteguhan

Kelulusan merupakan capaian penting bagi seseorang yang tengah menempuh pendidikan. Secara substansi, kelulusan adalah episode seseorang yang telah dinilai pantas dan memiliki bekal cukup untuk meneruskan langkah dalam proses kehidupan selanjutnya.

Namun demikian, sebagai seorang pendidik, aku memperhatikan, tidak jarang pemaknaan kelulusan ini justru belakangan semakin dangkal, tertutupi dengan prosesi yang menjauhkan diri dari kepekaan untuk menempa pribadi dan mengasah empati. Prosesi yang justru terkadang menjadi selebrasi untuk sekadar mengagungkan momentum dan meninggalkan substansi.

undefined

Refleksi selebrasi

Aku melihat, masyarakat kita semakin menempatkan selebrasi kelulusan sebagai ritual keharusan. Kita tidak pernah bosan dan bahkan semakin ahli dalam menyiapkan setiap prosesinya.

Tidak jarang kuperhatikan, selebrasi bahkan sudah dimulai sejak seseorang dinyatakan layak untuk melanjutkan riset dalam seminar proposal, meskipun dirayakan hanya dengan sebatang cokelat atau seikat bunga. Sebuah ritual yang dulu merupakan kemewahan jika terjadi di masaku menyelesaikan pendidikan tinggi, kini mulai menyesaki ritual selebrasi kelulusan mahasiswa.

Demikian halnya dengan lulus sidang skripsi. Aku menebak-nebak, selebrasi kelulusan dalam beberapa tahun terakhir semakin meriah, mewah, serta harus dihantarkan dengan terencana dan sempurna. Tidak jarang, prosesi ini mungkin harus mengeluarkan biaya tinggi bagi mereka yang menyiapkannya.

Puncaknya, kita menempatkan wisuda sebagai ritual tersakral dalam perayaan kelulusan. Meskipun tidak terjadi di semua kalangan, tetapi sering kulihat, keseriusan kita menyiapkan tampilan kita saat wisuda bahkan terkadang hampir menyerap energi sebesar saat menyiapkan hari penting lainnya, seperti pernikahan. Terkadang, kutemui juga sebagian dari kita yang larut dalam euforia prosesi ini bersama teman seperjuangan dan tanpa sadar mengabaikan orang tua yang setia mendampingi prosesi sejak pagi.

Apakah selebrasi dilarang? tentu tidak. Selebrasi sangat manusiawi. Sebagai wujud syukur atas capaian yang kita raih, selebrasi dapat menjadi momentum kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Melalui selebrasi, kita dapat memanjatkan segala pujian kepada-Nya sembari mengucap syukur atas kasih sayang tak berbatas yang dilimpahkan kepada kita, sehingga Tuhan memberi kita kekuatan untuk terus melangkah.

Namun, diakui atau tidak, jika kepekaan dan kehati-hatian kita tidak cukup terasah untuk menempatkan diri, selebrasi justru membocorkan energi dan meluruhkan substansi yang seharusnya kita pikirkan. Substansi yang semestinya mengiringi kita mendaki jalan menanjak dalam episode kehidupan setelahnya. Substansi yang seharusnya menguatkan setiap langkah menghadapi setiap ujian di masa depan.

Menghadapi pandemi, memaknai selebrasi

Tahun ini, pandemi menantang kita memikirkan ulang makna dan peran selebrasi kelulusan mahasiswa. Pembatasan jarak di tengah masyarakat memaksa semua perguruan tinggi di negara terdampak untuk membatalkan wisuda tatap muka. Sebagian universitas bersikukuh menunda sembari terus menunggu perkembangan, tidak sedikit yang melaksanakan wisuda daring, dan sebagian lainnya memutuskan untuk segera memberikan ijazah tanpa prosesi wisuda.

Tidak hanya perguruan tinggi, namun warga global turut bergandengan tangan merayakan kelulusan tahun 2020. Salah satu puncaknya, YouTube menampilkan Dear Class of 2020 yang berisi rangkaian motivasi dari tokoh dunia hingga pekerja seni ditujukan untuk mereka lulusan tahun 2020. Barack Obama, Bill Gates, BTS, Alicia Keys, Beyonce, Lady Gaga, dan sederet nama lainnya mewarnai momentum perayaan daring ini.

Pesan yang disampaikan juga mengasah batin dan menajamkan pikiran. Nukilan pidato Obama mendorong kita untuk memaknai kembali arti wisuda:

Even if we can’t all gather in person, I want you to remember that a graduation ceremony doesn’t celebrate just a moment in time. It’s the culmination of all your years of learning — about the world and about yourself. The friends and family who supported you every step of the way — they aren’t celebrating a piece of paper. They’re celebrating you: how you’ve grown, the challenges you’ve overcome and the experiences you’ve shared. You can see that love in all the amazing ways that families have come up with their own at-home graduations, from drive-by parades to handmade yard signs.

The point is, don’t let the lack of a big, crowded ceremony take anything away from what your graduation signifies. Go ahead and bask in the glory of your achievement… Now, as was true for generations before you, graduation marks your final passage into adulthood the time when you’re expected to fully take charge of your life’s direction. It’s when you get to decide what’s important to you. The career you want to pursue. The values you want to live by. Who you want to build a family with. That can be intimidating even under normal circumstances. And given the current state of things, let’s face it — it can be downright scary.

Sumber: The Washington Post, 7 Juni 2020

Apa yang diutarakan Obama di atas relatif mendekati substansi tentang wisuda dan kelulusan. Sebagai suatu momentum, kelulusan (graduation) bermakna beda dengan seremoni wisuda (graduation ceremony) itu sendiri. Sebagaimana diuraikan Obama, kelulusan secara substansi adalah momentum kita untuk sepenuhnya bertanggung jawab terhadap setiap keputusan dan arah masa depan kita.

Seiring dengan usia kita yang bertambah, momentum kelulusan perguruan tinggi memaksa kita untuk memilih antara dua hal: menempa diri tumbuh menjadi pribadi matang dan mapan; atau terjebak dalam romantisme masa lalu yang diwarnai watak kekanak-kanakan.

Memetik hikmah

Jika kita mau berpikir lebih jauh, tidak diselenggarakannya wisuda tatap muka justru merupakan kemewahan bagi semua lulusan perguruan tinggi di tahun 2020. Kemewahan ini berupa waktu, pikiran, dan kesempatan untuk memetik hikmah dan memaknai arti lulus dengan lebih kalis.

Perumpamaannya, serupa saat kita berpuasa, dengan menahan hawa nafsu, kepekaan sosial kita akan lebih terasah. Kita memiliki kemewahan batin untuk lebih dapat memaknai hakikat menjadi hamba, dan lebih tergerak untuk menolong sesama.

Pun sewaktu kita mengurung diri di kamar, menahan diri dari aktivitas bermain tanpa tujuan, saat harus belajar mempersiapkan ujian akhir semester. Dalam keheningan, fokus kita akan lebih kuat, jauh dari distraksi, dan pemahaman kita terhadap materi akan lebih dalam.

Dengan menahan diri melakukan hal-hal yang memuaskan kebutuhan kita terhadap materi, cahaya akan lebih mudah masuk dalam jiwa kita.

Aku percaya, tahun 2020 membuka pintu lebih lebar bagi semua yang lulus di tahun ini untuk memasuki langkah masa depan dengan lebih matang dan tangguh. Artinya, berkecil hati karena melewatkan prosesi wisuda tatap muka bukanlah pilihan yang bijak. Justru, kalian adalah generasi yang lebih kalis dari kami yang pernah merayakan kelulusan dengan distraksi selebrasi yang tidak jarang justru kami hadapi dengan membuang energi. Rayakan kemewahan ini dengan lebih berharga: bersama orang-orang dekat kalian, bersama mereka yang setia mendampingi setiap jengkal kegagalan, ketakutan, kesedihan, hingga kebahagiaan dan keberhasilan kalian sejak kehadiran kalian di dunia ini.

Melanjutkan langkah

Aku selalu percaya bahwa masa depan tidak selalu milik mereka yang lulus dengan pujian, ataupun mereka yang berindeks prestasi terdepan. Aku juga tidak menempatkan gelar akademik sebagai suatu kesakralan yang wajib disematkan di manapun setiap saat nama kita ditulis. Mungkin tidak semua orang setuju denganku, tetapi bagiku gelar bermakna sebatas simbol kompetensi akademik yang kita miliki. Tidak lebih.

Keberhasilan masa depan adalah milik kita semua yang setia pada proses mematangkan diri, apapun capaian kita semasa kuliah. Keberhasilan masa depan adalah milik siapapun yang mau belajar di manapun ia tumbuh: baik di universitas, tempat kerja, maupun di tengah masyarakat luas. Sebagaimana ditulis oleh Julia Garwood:

Going to university is only one avenue to gain knowledge. There are others. A degree isn’t insurance against ignorance.

Sumber: Julie Garwood, For the Roses, hal. 89.

Dengan gelar akademik, kita pantang menjadi lengah dan enggan untuk belajar memetik hikmah dari manapun pada setiap episode kehidupan. Dengannya, justru kita harus tertantang untuk teguh bergerak dalam kesederhanaan dengan upaya menebar manfaat bagi sesama, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Akhirnya, kelulusan 2020 ini layak untuk dijadikan momentum merenung tentang apa yang sebaiknya dilakukan setelah studi berhasil paripurna. Sastrawan dan filosof Mesir, Mahmud Abbas al-Aqqad pernah mendapati pertanyaan ini dari seorang mahasiswi yang baru saja lulus dan al-Aqqad menjawab:

Teruslah berjalan dan berjalan. Jangan berhenti berjalan.

Kalau perjalanan meletihkanmu maka duduklah. Bila engkau duduk, lihatlah ke belakangmu apa yang telah engkau lakukan dan apa pula yang telah engkau persembahkan.

Kalau engkau tidak menemukan sesuatu yang telah engkau hasilkan maka lanjutkan lagi perjalananmu. Bila engkau letih duduk lagi untuk melakukan introspeksi, dan jangan pernah berhenti bertanya:

Apakah engkau telah memilih jalan yang benar? Apakah jalan yang engkau pilih itu dapat menjadikanmu sesuatu yang berarti? Apakah jalan yang engkau lalui itu datar atau penuh rintangan? Apakah engkau menemukan dirimu melompat dari hambatan jalan? Apakah engkau memperhatikan kakimu ketika sedang berjalan? Apakah engkau menggambar pohon atau mengikuti pandanganmu ke arah burung yang terbang? Apakah engkau melihat langit dan bertanya; ‘Apa yang berada di atas sana? Apakah engkau punya peranan? Apakah engkau dibutuhkan?’

Kalau itu tidak engkau lakukan dalam hidupmu maka tidak perlu lagi engkau melanjutkan langkah.

Sumber: Quraish Shihab, Islam yang saya pahami, 2019, hal. 71.

Selamat melanjutkan langkah dan memetik hikmah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan berkah.

Tulisan ini kudedikasikan untuk Hj. Sarah, Muhammad Ibtihaj Han, Kenny Meigar, Salsabila Firdhausiyah, Utin Try Wahyuni, Nanda Tsani Azizah, Anisa Zakiya, Ayu Idrayeni Y. Thalib, Inda Nitami Sembiring, Malinda Hestiyana dan semua mahasiswa Hubungan Internasional UII yang lulus tahun 2020 di tengah pandemi.