Categories
Leadership Reflection University

Secangkir Kopi dan Kepemimpinan Nurani

Pekan kedua September 2015, dalam sebuah penerbangan menuju ke Glasgow, aku berkenalan dengan seorang perempuan paruh baya yang duduk berdampingan dengan kursiku. Penelope (bukan nama sebenarnya), memperkenalkan dirinya sebagai seorang profesor bidang ekonomi pada sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika Tengah. Selama delapan tahun terakhir, ia telah menjalankan peran sebagai Dekan Internasionalisasi dan Pengembangan Strategis.

Kurang lebih sepuluh menit setelah hidangan makan malam dinikmati, kami mulai berbincang mengenai perjalanan ke Glasgow. Aku menduga, agenda Penelope di Glasgow tidak berbeda dengan rencanaku: mendatangi pameran dan konferensi internasional tahunan tentang pengelolaan perguruan tinggi.

Tebakanku tidak salah. Ternyata, kami bahkan memiliki rencana untuk datang di beberapa panel diskusi yang sejadwal. Setelahnya, banyak yang kami bincangkan mengenai pengelolaan perguruan tinggi, mulai dari sumber daya manusia hingga internasionalisasi. Tidak banyak argumen kami yang berbeda, khususnya saat menilai beban kerja akademisi dalam pekerjaan administratif kampus yang belakangan semakin timpang.

Americano

Waktu terus berlalu dengan percakapan, hingga awak kabin datang menawarkan apakah kami menginginkan minuman tambahan. Penelope memesan secangkir Americano dan menyarankan minuman yang sama untukku. Awalnya aku enggan, karena kopi hitam tidak pernah masuk dalam daftar favoritku untuk minuman.

undefined

Selain itu, pesawat ke Glasgow adalah penerbangan pertamaku dengan kelas bisnis yang terjadi tanpa rencana. Jadwal terbang sebenarnya semestinya enam jam lebih awal. Satu jam sebelum naik pesawat, aku diberitahu bahwa reservasiku masuk dalam daftar overbooking, sehingga maskapai menawarkan pindah pesawat dengan kompensasi kelas bisnis. Dengan kompensasi ini, tadinya aku berencana menghabiskan waktu di penerbangan untuk tidur.

Namun, Penelope bersikeras.

“Hangga, Glasgow adalah perjalanan terakhir dalam karierku sebelum pensiun bulan depan. Kamu masih muda, dan aku punya banyak kisah yang mungkin menarik buatmu. Mengapa tidak kita lanjutkan diskusi dengan mencoba kopi seleraku?” ungkapnya.

Aku spontan tertarik. Akhirnya, kulanjutkan diskusi dengan Penelope ditemani secangkir kopi seleranya. Ia melanjutkan kisah petualangan selama delapan tahun mengawal internasionalisasi perguruan tinggi.

Mengingat niat

Aku lebih banyak mendengar dan mengangguk selama perbincangan. Secara umum, banyak kemiripan cerita yang Penelope dengan kisah-kisah lain yang telah kudengar dari para pejabat teras berbagai universitas, khususnya tentang bagaimana terkadang pendidikan tinggi terjebak dalam permainan dan narasi pemeringkatan dunia.

Saat diskusi beralih ke topik kepemimpinan, ada sesuatu yang berbeda. Aku menemukan inspirasi yang jarang kujumpai sebelumnya. Dengan pandangan matanya yang jauh, Penelope berpesan dalam.

“Setelah tiga puluh lima tahun bekerja di perguruan tinggi, aku berkesimpulan bahwa orang-orang hanya dapat memiliki rekam jejak kepemimpinan yang baik jika dari awal mereka menempatkan niat dengan benar,” tegasnya.

“Seperti apa kriteria benar menurutmu?” balasku.

“Saat kita berani untuk menerima tugas sebagai pemimpin, seketika itu pula kepentingan pribadi kita harus diletakkan di bawah kepentingan mereka yang kita pimpin. Ini kriteria mutlak. Aku tidak jarang melihat di sekelilingku, orang memimpin hanya diartikan sebagai orang yang memiliki jabatan, kewenangan, kekuasaan. Hanya sekadar penambah portofolio dalam Curriculum Vitae, atau lebih parahnya lagi, sekadar penambah pendapatan,” ungkap Penelope tegas.

Aku mencerna setiap kalimat yang ia uraikan. Baginya, esensi kepemimpinan adalah pelayanan dan pemeliharaan.

“Universitas adalah samudra cendekiawan muda dan lautan ilmuwan. Setiap dari mereka harus dilayani, dilindungi, dan dikembangkan potensinya,” jelasnya.

Dalam melayani dan memelihara tentu bukan tanpa masalah. Namun, baginya, penempatan niat yang benar juga termasuk pemahaman bahwa gaji dan tunjangan yang diterima pemimpin bukan sekadar untuk membayar capaian yang dicetak, namun juga termasuk untuk menelan setiap masalah, konflik, badai, dan tantangan, yang ia hadapi.

Percakapan terus berlangsung sambil aku mencoba mengingat dengan teliti, di manakah terakhir kuletakkan niatku?

Sindrom bunga poppy

Penelope tidak berhenti berkisah. Ia mengingatkan, pemimpin tidak boleh melestarikan sindrom bunga poppy dalam lingkungan kerjanya.

undefined

“Saat kita melihat bunga poppy yang tumbuh lebih tinggi dibanding kawanan lainnya, kita akan memotongnya agar tidak ada poppy yang menonjol dibanding yang lain. Pemimpin harus menghindari sikap ini,” tegasnya.

Aku tidak langsung sependapat. “Bukankah kita perlu menciptakan kesetaraan dalam lingkungan kerja,” sanggahku.

“Benar, tapi tidak dengan memotong atau menghalangi potensi sesama. Sebagai pemimpin, kita juga salah jika hanya membiarkan anggota tim kita berkembang sendiri. Kita harus dukung setiap usaha mereka mengasah potensinya,” balas Penelope.

“Bagaimana jika mereka tidak sadar bahwa kita mendukung mereka? Atau justru melawan?,” tanyaku balik.

“Bukan tugas kita untuk berpamrih. Teruslah membantu dalam senyap. Jika mereka melawan atau melanggar aturan main, gunakan pendekatan yang lebih resmi. Mereka pasti akan berpikir,” pungkasnya.

Penelope menyegarkan ingatanku tentang perlunya memimpin dengan nurani. Mendengarkan nurani akan menggerakkan kita untuk memanusiakan sesama, tidak sibuk melayani godaan jabatan sebagai panggung tunggal untuk membesarkan nama sendiri.

Pesan dari langit

Lewat Penelope, Tuhan mengingatkanku dengan lembut. Prinsip manajemen kepemimpinan Penelope tidak jauh dari inspirasi ajaran Islam sehari-hari yang selama ini hanya lewat begitu saja, berbekas sebatas ritual dan rapuh kemauan untuk memahami makna.

undefined

Sebenarnya, Tuhan sudah lama berpesan kepada manusia tentang inspirasi kepemimpinan nurani yang mengembangkan potensi insani. Dalam surat ke-114 yang kita kenal dengan nama Manusia (an-Nas), Allah berfirman di ayat 1-3:

Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan manusia (Rabbi an-Nas). Maharaja manusia (Malik an-Nas). Tuhan yang disembah manusia (Ilah an-Nas).

Pada setiap ayat tersebut, kita mendapatkan kesan yang berbeda tentang Tuhan. Ayat pertama disebut dalam kata Rabb, bukan Allah. Rabb sendiri mengandung makna kepemilikan, pemeliharaan, dan pendidikan yang melahirkan pembelaan serta limpahan kasih sayang (Shihab, 2003a, p. 32; 2003m, p. 752).

Sementara pada ayat kedua, disebutlah Malik yang berarti Maharaja, melukiskan kesan otoritas yang lebih kuat, mencitrakan kekuatan dan kepemilikan sebagai penguasa yang mengurus manusia.

Pada ayat ketiga, dengan kata Ilah, kesan otoritas Tuhan sebagai satu-satunya muara semua makhluk menuju dan bermohon (aliha – ya’lahu) terbaca semakin kuat. Dari kata Ilah, kita juga mendapati kesan Tuhan sebagai zat yang disembah oleh manusia dan kepada-Nya ditujukan semua bentuk pengabdian.

Tiga ayat pertama an-Nas penting untuk dijadikan bahan bertadabur. Cak Nun menggambarkan tadabur ayat-ayat tersebut sebagai kelembutan Allah dalam menggambarkan sifat-Nya. Ia tidak langsung menyebut Maharaja maupun sebagai Tuhan yang disembah manusia pada ayat pertama. Ia memilih menyebut-Nya sebagai Rabb, pemelihara dengan limpahan kasih sayang. Tuhan yang memelihara semua makhluk dan seluruh alam.

Perenungan ayat-ayat dalam surat ke-114 menggerakkan kita untuk meneladani sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kepemimpinan yang halus dan penuh kasih sayang. Sebagai pemimpin, sudah semestinya kita mengutamakan sifat untuk mengayomi, melindungi, dan memelihara mereka yang kita pimpin.

Dalam surat ke-26 ayat 215 dan surat ke-17 ayat 24, Tuhan bahkan berpesan agar kita merendahkan sayap kita kepada para pengikut kita (Wahid, 2020). Ini dapat menjadi inspirasi agar kita selalu berupaya bersikap lembut dan merendahkan hati terhadap mereka yang kita pimpin, serta menjauhkan sikap meninggi, pongah, atau memamerkan kekuasaan.

Mendengarkan nurani

Diskusi dengan Penelope berjalan bernas dan berakhir sesaat sebelum kapten penerbangan mengumumkan pesawat akan segera mendarat. Kisah Penelope memantik ingatanku tentang perlunya manusia untuk selalu ingat bahwa salah satu esensi kehidupan adalah mendengarkan nurani agar kita selalu tergerak untuk mengasihi sesama, sebagaimana pesan dari langit yang diuraikan di atas.

Kami tidak berkomunikasi lebih jauh selama aktivitas di Glasgow, maupun bertahun-tahun setelahnya. Belakangan, aku mencoba mencari nama Penelope melalui Google, dan baru kutemukan bahwa ternyata ia sempat menjabat sebagai Rektor di universitasnya sebelum menyelesaikan kariernya dengan jabatan Dekan. Sebuah perjalanan yang mengingatkanku tentang kisah inspiratif Prof. Dr. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir yang melanjutkan pengabdiannya sebagai Dekan Fakultas Hukum setelah selesai menjabat sebagai Rektor pertama Universitas Islam Indonesia.

Perjalanan di udara selalu menjadi momentum favoritku untuk merenung, menambah inspirasi, mengasah nurani, dan mempelajari potensi insani.

Jadi, ke mana penerbangan kita selanjutnya?