Categories
Reflection Understanding Islam

Memaknai Keseimbangan

Salah satu hal yang penting untuk kita refleksikan dalam hidup adalah konsep keseimbangan. Keseimbangan merupakan kunci eksistensi dari seluruh dimensi, mulai dari alam semesta yang luas hingga kehidupan kita sebagai manusia. Bumi yang kita huni tidak akan mampu menjadi tempat tinggal yang aman jika tata surya tidak seimbang. Tidak akan ada malam bertabur bintang yang bergantian dengan terbitnya matahari di siang hari. Semesta menjadi harmoni karena keseimbangan. Gedung pencakar langit akan runtuh jika konstruksi tidak seimbang. Pesawat tidak akan memiliki daya dorong untuk terbang tanpa keseimbangan. Pun demikian halnya dengan kita sebagai manusia. Kita tidak akan mampu bertahan hidup dengan sehat jika pola aktivitas, pola makan, pola pergaulan, dan pola berpikir kita tidak seimbang.

Jika kita menilik sebentar ke dalam ilmu hubungan internasional, ketentuan yang sama juga mudah kita temukan. Bagi Realisme, bentuk ideal dari tatanan dunia untuk terhindar dari perang adalah perimbangan kekuatan. Demikian juga dengan Liberalisme yang meyakini absolute gain sebagai pandangan ideal dalam menentukan kepentingan suatu negara yang semestinya tidak hanya mencakup kekuasaan tetapi juga mencakup dampak ekonomi dan budaya. Hal yang sama kita temukan dalam perspektif Postmodernisme yang memandang modernisme sejak akhir abad ke-19 tidak imbang dan oleh karenanya muncul upaya dekonstruksi.

undefined

Islam dan keseimbangan

Kesimpulan sementara, keseimbangan adalah kunci untuk hidup. Apakah ini sesuatu hal yang baru? Rupanya tidak. Jika kita telusuri, Islam banyak mengajarkan mengenai keseimbangan. Dalam beberapa ayat, kita akan menemui bahwa Tuhan ingin kita berpikir dan bertindak secara seimbang. An-Nur (24) ayat 35 menekankan pentingnya berpikir moderat dengan perumpamaan pohon yang tidak tumbuh di timur maupun di barat. Ar-Rahman (55) ayat 5-9 secara tegas menyatakan bahwa Tuhan telah mencipta dan mengatur semua dengan keseimbangan, serta melarang manusia untuk tidak berlaku adil.

Saat kita telusur lebih dalam, Alquran sendiri tersusun dalam berbagai dimensi keseimbangan, bahkan hingga unsur cacah kosakata. Dari 77.439 kata dan 323.015 huruf di Alquran, kata “hayat” terulang 145 kali, setara dengan kata “maut”. Demikian juga dengan kata “malaikat” yang disebut 88 kali, sejumlah kata “setan”; kata “ketenangan” dan “kecemasan” yang masing-masing diulang 13 kali (Shihab, 1996).

Sarjana yang seimbang

Lebih jauh, jika kita memaknai lebih dalam, maka sesungguhnya dalam setiap tahapan hidup, kita selalu memerlukan keseimbangan. Seorang Sarjana yang baru lulus dan memaknai keseimbangan ini dengan saksama sudah semestinya memunculkan kesadaran dalam diri untuk menilik kembali apa tentang yang telah mereka raih. Beberapa pertanyaan reflektif akan muncul: ilmu apa yang telah dikuasai selama kuliah? keterampilan apa yang telah dikuasai? tujuan hidup apa yang selanjutnya akan dicapai?

Dari beberapa pertanyaan terhadap diri sendiri tersebut, kita akan semakin mengenal siapa diri kita. Tentunya, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah bahan untuk memantaskan diri kita menjadi sosok yang memiliki peran penting bagi sesama di masa depan. Seperti apa sosok tersebut? Dalam konteks ini, sosok tersebut adalah yang mampu memaknai keseimbangan, mampu berlaku adil, dan bahkan berlaku ihsan (kebajikan). Sejarah telah menunjukkan bahwa orang-orang berhasil yang berkah adalah hanya ketika mereka mampu menjadi ihsan, atau dapat diartikan ketika mereka membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang lebih besar, serta berani untuk membalas keburukan dengan kebaikan.

Akhirnya, sebagai Sarjana, kita tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu yang berkenaan dengan aqliyah atau berkaitan dengan logika empiris. Sarjana harus mampu memiliki keterampilan yang seimbang dengan mengasah empati serta kemampuan reflektif untuk mempertajam cara berpikir kita, serta menjadikan kita rahmat bagi sesama. Wallahua’lam.

Artikel ini adalah nukilan dari sambutan Ketua Program Studi dalam Yudisium Program Studi Hubungan Internasional, 15 Mei 2020.