Categories
Reflection Understanding Islam

Menyuluh Cahaya Peradaban

Dalam sebuah pertemuan akhir mata kuliah Teori Hubungan Internasional tahun 2019 lalu, saya mendapati salah satu mahasiswa dengan sarat rasa ingin tahu mengajukan pertanyaan cerdas: mengapa teori-teori politik, hubungan internasional, dan kebanyakan sains saat ini didominasi oleh perspektif negara-negara Barat? Mengapa perspektif Islam tidak hadir sekuat perspektif Barat?

Mencari Islam

Setelah memahami pertanyaan bernas tersebut dengan saksama, saya mencoba untuk menjawab dari perspektif sejarah, khususnya bagaimana Islam berjaya dalam meluhurkan peradaban dunia di masa lalu. Pada abad ke-7 hingga ke-11, Islam berhasil mendominasi perkembangan peradaban dunia, khususnya di bidang sains, budaya, dan ekonomi. Tidak sedikit filsuf muslim yang berkontribusi terhadap sains, beberapa di antaranya seperti Al-Kindi dan Imam Ghazali di bidang filosofi, Ibn Sina di bidang kesehatan, Al-Horezmī dan di bidang matematika.

Lalu mengapa setelah abad ke-11 kontribusi ilmuwan muslim menurun?. Terdapat beberapa sebab yang bisa kita telusur. Pertama, pada abad ke-12, di Toledo, sebuah kota di Spanyol, menjadi saksi sejarah atas translasi masif naskah-naskah ilmiah berbahasa Arab ke bahasa Latin. Artinya, ilmuwan barat mulai membangun posisi mereka dalam sains dengan memahami karya-karya fenomenal ilmuwan muslim (McCleary & Barro, 2019). Kedua, menurut Chaney (2016), kaum elitis Islam pada era tersebut justru memilih pendekatan supresif terhadap para pemikir independen, menjadikan perkembangan sains dari perspektif Islam semakin melambat. Ketiga, metode pendidikan di kalangan muslim yang lebih menekankan pada hafalan pada teks-teks klasik, dengan sedikit paparan gagasan, pemikiran kritis, dan inovasi baru, menjadikan dunia Islam menjadi tertutup, menghambat rasa ingin tahu tentang dunia di luar Islam (Bernard Lewis, 1993).

Dengan ketiga argumen tersebut di atas, dapat dipahami mengapa pengaruh perspektif Islam dalam sains secara umum saat ini tidak sekuat sepuluh abad yang lalu. Sebagian dari kita bahkan mungkin berbangga, bahwa dominasi Barat terhadap sains saat ini tidak lepas dari kontribusi Islam. Namun, jika ditelusur lebih lanjut, romantisme terhadap kejayaan Islam di masa lalu dapat menjebak kita untuk pasrah, tidak inovatif, dan tidak memiliki komitmen untuk mendorong kemajuan. Dapat juga dipahami bahwa hilangnya dominasi perspektif Islam dalam sains saat ini sebenarnya mencerminkan seberapa besar upaya ilmuwan muslim itu sendiri dalam mengembangkan sains. Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Photo by VisionPic .net on Pexels.com

Mencari cahaya

Dalam situasi tersebut, firman Allah Swt. dalam Surat An-Nur (24) ayat 35 dapat menjadi inspirasi agar ilmuwan muslim dapat terus berpacu dan berinovasi. Dalam ayat ini, Allah Swt. berfirman: “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Sebagai ayat perumpamaan (amtsal), terdapat banyak variasi makna dalam menafsirkan pelita di atas. Imam Ghazali menafsirkan ayat ini dengan indah, di mana lubang yang tidak tembus (kamisykātin) melambangkan fitrah panca indra kita yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan, sehingga pelita besar (miṣbāḥ) merupakan lambang dari akal yang membantu panca indra kita untuk melihat lebih jauh. Ibarat sebuah tongkat yang dimasukkan setengah ke dalam kolam akan terlihat oleh mata kita sebagai tongkat bengkok, dan akal membantu kita untuk berpikir bahwa tongkat tersebut sebenarnya tetap tegak lurus.

Namun, akal tidak mampu berdiri sendiri. Ia dapat sewaktu-waktu mengembara, tanpa tujuan yang baik. Oleh karenanya, tabung kaca (az-zujājatu) yang dimaksud dalam An-Nur (24) ayat 35 adalah pentingnya fokus dalam menggunakan akal, agar kita dapat berkonsentrasi sebagaimana terangnya cahaya api di dalam teplok. Dalam meluruskan panca indra, akal perlu dibimbing oleh wahyu, ilham, atau intuisi, yang dalam ayat ini dilambangkan dengan minyak dari pohon zaitun yang diberkahi (yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnati). Minyak ini membimbing nyalanya pelita yang terus-menerus, disimbolkan dengan ungkapan cahaya di atas cahaya (nụrun ‘alā nụr).

Cahaya di atas cahaya

Tafsir surat An-Nur (24) ayat 35 tersebut dapat menjadi inspirasi bagi ilmuwan muslim untuk bertadabur seraya terus berupaya mengembangkan sains, mengembalikan kejayaan Islam di masa lalu. Hilangnya dominasi perspektif Islam dalam sains adalah bentuk telah hilangnya nụrun ‘alā nụr, cahaya di atas cahaya yang berlapis-lapis dan terus-menerus. Cahaya itu memudar sejak abad ke-11. Untuk meraihnya kembali tidak cukup dengan mengandalkan panca indra dan akal. Wahyu Ilahi yang dilambangkan sebagai minyak zaitun terbaik harus senantiasa menjadi pembimbing ilmuwan muslim dalam mengembangkan sains.

Sementara itu, ungkapan pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat (zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiy) juga menjadi inspirasi akan moderasi ajaran Islam, agar ilmuwan muslim tidak terjebak pada pemahaman yang dogmatik, tekstual, dan partisan. Ungkapan tersebut juga menjadi inspirasi agar ilmuwan muslim tidak menutup diri dengan modernisasi pemikiran, agar pelita akal senantiasa berpendar. Hal ini serupa dengan perumpamaan matahari yang sinarnya menjadi pelita di seluruh penjuru bumi. Jika ada yang tidak memperoleh kehangatan dan cahaya matahari, maka sebenarnya disebabkan oleh mereka sendiri, yang posisinya keliru dan menjauh dari cahaya tersebut.

Apakah mungkin kita kembali meraih nụrun ‘alā nụr dalam konteks kejayaan Islam dalam sains? Tentu, sangat mungkin. Semuanya kembali kepada cara pandang kita, apakah pengembangan perspektif Islam dalam sains ini kita pahami sebagai proyek islamisasi ilmu pengetahuan dalam arti tekstual, atau sebagai konteks yang lebih luas: menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai pelita dalam meluhurkan peradaban. Jika cara pandang kita adalah yang kedua, maka sains ditempatkan ke tingkat yang lebih memberi maslahat, menjadi pilar penopang peradaban manusia.

Mari kita merenung kembali. Apakah posisi kita selama ini menjauhi cahaya? Seberapa terang pelita kita? Cukup kuatkah tabung kaca untuk melindungi pelita kita? Sudahkah kita menyuluh nyalanya pelita tersebut dengan minyak yang cerah dan hampir menerangi? Wallahu a’lam.

Artikel ini adalah ringkasan dari sambutan Ketua Program Studi dalam Yudisium Program Studi Hubungan Internasional, Maret 2020, dan ditayangkan dalam rubrik Khazanah, hal. 18, UII News, Edisi 202, Maret 2020.