Categories
Reflection Understanding Islam

Membaca Masa Depan

Sering kita mendengar, cerita tentang keberhasilan masa lalu di berbagai entitas sosial yang sengaja digaungkan untuk memantik semangat meraih kejayaan masa depan. Dari tingkat negara, misalnya, kerap kita dengar cerita rekaman sejarah yang menunjukkan gelora perjuangan atau pembangunan peradaban. Demikian halnya di struktur sosial lainnya, seperti bangsa, suku, agama, hingga entitas terkecil yaitu keluarga, dan mungkin, diri kita sendiri.

Kebanggaan sejarah

Tiongkok, negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia melacak sejarah peradaban bangsa mereka hingga 1600 s.d. 221 tahun sebelum Masehi. Salah satu peninggalan terkenal adalah 64 lonceng perunggu di wilayah Hubei, Tiongkok, yang berusia lebih dari 2000 tahun. Lonceng ini ditemukan bersama ribuan barang lainnya dalam satu kompleks makam Marquis of Yi yang dibangun 433 tahun sebelum Masehi. Sementara itu, di tahun 180-an, sejarah Tiongkok juga tercatat munculnya kekaisaran Dinasti Han dengan kemajuan besar dalam teknologi, filsafat, agama, dan perdagangan. Pada abad ke-7, kita sering mendengar tentang zaman kejayaan Islam pada tahun 750 s.d. 1400-an. Perkembangan budaya, ekonomi, dan sains pada zaman tersebut dipimpin oleh peradaban Islam. Tidak sedikit filsuf muslim yang berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan, beberapa di antaranya seperti Ibn Sina di bidang kesehatan, Muḥammad ibn Mūsā al-Khwārizmī di bidang matematika, dan Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq aṣ-Ṣabbāḥ al-Kindī di bidang kimia.Sementara itu, bagi bangsa lain, tahun 1450 s.d. 1750 merupakan zaman eksplorasi bangsa Eropa. Portugis, Spanyol, disusul Belanda, Inggris, dan Prancis menjalankan ekspedisi jalur pelayaran ke berbagai belahan bumi. Sejarah dunia modern saat ini bahkan tidak bisa lepas dari bagaimana bangsa Eropa membentuk relasi kuasa dengan bangsa-bangsa yang tinggal di ‘Dunia Baru’. Amplifikasi sistem negara bangsa dan pekikan kemerdekaan negara-negara ‘Dunia Baru’ menjadi warna sejarah tersendiri sejak abad ke-19, tidak terkecuali Indonesia.

undefined

Ujian waktu

Setiap kejayaan entitas sosial tidak bisa lepas dari ujian yang paling sulit: waktu. Masa keemasan setiap bangsa diuji sesuai dengan perubahan zaman, mendorong munculnya tantangan yang tidak pernah sama di setiap masa. Tiongkok, misalnya, terlepas dari peradabannya yang tua, pernah mengalami masa persatuan dan perpecahan di zaman Dinasti Han. Dalam konteks sejarah modern, Tiongkok juga pernah terperosok dengan persentase kemiskinan 88% (850 juta orang) dari total cacah penduduknya di tahun 1981. Angka ini hampir hilang, dengan persentase penduduk miskin di Tiongkok yang hanya tersisa 0,7% di tahun 2015.Sama halnya dengan peradaban Islam. Realitas sosial menunjukkan bahwa kontribusi peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan tidak lagi sekuat pada abad ke-8 s.d. ke-12. Setelah zaman tersebut berlalu, ilmu pengetahuan lebih banyak berkembang di negara-negara barat. Saat ini pun, jika kita berasumsi bahwa perguruan tinggi adalah produsen ilmu pengetahuan, tidak ada satu pun universitas Islam yang masuk dalam 50 besar perguruan tinggi dunia versi QS tahun 2020. Bagaimana dengan peradaban barat? semua ada waktunya. Jika kita meluangkan waktu sejenak untuk menelusur berita tentang bangsa-bangsa Eropa dalam sepuluh tahun terakhir, kita akan temui realitas bahwa mereka tengah dihadapkan dengan tren penurunan (decline) pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan arus iliberalisasi. Demokrasi yang lahir dari rahim bangsa tersebut, seiring dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi, ditengarai juga mulai memudar dan berbalik arah.

Mencari sebab

Meskipun tiga cerita entitas sosial di atas belum sepenuhnya mampu mewakili rekaman kekayaan peradaban manusia, namun kita bisa mencari benang merahnya. Sejauh ini, memang tidak ada peradaban yang abadi. Dulu pemenang, sekarang kalah bersaing. Dulu tidak masuk dalam hitungan, sekarang menjadi bintang. Semua berputar. Jika kita mencoba mencari lebih jauh, apa yang menyebabkan kejayaan masa lalu suatu entitas sosial meredup? Penyebabnya mungkin beragam, tergantung dari kasus masing-masing. Dalam konteks sejarah Tiongkok, di tengah kuatnya Jalur Sutra yang dibangun pada masa Dinasti Han, rupanya korupsi, ledakan cacah penduduk, dan kesalahan dalam strategi perang menjadi faktor-faktor penting pendorong tenggelamnya kekaisaran Dinasti Han. Selain itu, perebutan kekuasaan juga menjadi faktor lain yang mempercepat akhir Dinasti Han:

By the 180s CE, the Han court had grown weak and increasingly cut off from local society, with debauched or disinterested emperors who lived only for amusement. Court eunuchs vied for power with scholar-officials and army generals, and political intrigues were so vicious that they even led to wholesale massacres within the palace. In 189 CE, the warlord Dong Zhuo went so far as to assassinate the 13-year-old Emperor Shao, placing Shao’s younger brother on the throne instead (Szczepanski, 2019).

Lain halnya dengan Tiongkok, jatuhnya zaman kejayaan Islam di bidang sains dan teknologi dapat ditelusur setelah dilakukannya translasi masif teks ilmiah dari bahasa Arab ke Latin yang berpusat di kota Toledo, Spanyol, pada pertengahan abad ke-12. Setelah periode translasi ini selesai, produktivitas cendekiawan Muslim justru menurun. Mengapa? menurut Chaney (2016) elit agama justru memilih pendekatan supresif terhadap pemikiran independen, menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan melambat (dikutip oleh McCleary & Barro, 2019, p.73). Lebih jauh:

…Muslims, rather than being schooled in critical thinking and independent judgment, became occupied with rote learning and memorization. Their principal reliance was on classical texts, with little exposure to new ideas and innovation. Thus, the Islamic world became closed, discouraging reform by stunting curiosity about the world beyond Islam and deterring intellectual investigation (McCleary & Barro, 2019, p.73-4).

Bagaimana dengan pudarnya zaman keemasan Eropa? dekade krisis 2009-2019 dapat menjadi salah satu alat ukur bagaimana negara-negara dalam kawasan ini tengah diuji oleh waktu. Akibat dari rangkaian krisis tersebut, gejolak populisme menguat dan gelombang iliberalisme turut mencuat. Ketidaksiapan Eropa mengimbangi ‘abad Asia’ justru membalikkan nilai-nilai inklusivitas yang selama ini didengungkan. Menurut Krastev:

Democracy in Europe, which had long been an instrument for inclusion, is now slowly being transformed into a tool for exclusion. The minority-friendly regimes of the early post–Cold War period are being supplanted by majoritarian regimes that are openly intolerant and anti- pluralistic. The dream (now fantasy) of a Europe without frontiers is being replaced by the grim reality of a barricaded continent (Krastev, 2017, p. 108).

Menjadi adaptif

Adakah relasi ketiga kisah di atas dengan kehidupan kita sehari-hari? Apa nilai yang bisa diambil dari sebab pudarnya pengaruh ketiga entitas sosial di atas? Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan beradaptasi menjadi sebab penentu apakah kita sekadar bisa bertahan, terdampar menjadi pecundang, atau terpilih sebagai pemenang. Meminjam istilah yang digunakan Herbert Spencer, ‘sintasan yang terbugar’ (dalam bahasa Inggris sering ditulis dengan ungkapan survival of the fittest), kemampuan adaptasi terhadap perubahan bisa jadi pintu masuk atas pencarian jawaban alasan bergantinya para pemenang peradaban di setiap zaman.

Taylor (2016) membuat hipotesis menarik tentang mengapa sains dan teknologi suatu negara dapat lebih inovatif dibanding negara lain. Menurutnya, jika energi suatu negara ‘bocor’ untuk mengelola urusan dan konflik internal, maka bisa dipastikan kemampuan inovasi sains negara tersebut lemah. Sebaliknya, negara yang lebih mengerahkan energi untuk bersaing dengan negara sekitar akan mendorong kemampuan inovasi sains yang lebih bagus. Dengan kata lain, negara dengan tata kelola yang tidak adaptif akan gagal mendorong inovasi.

Serupa dengan negara, sebagai manusia, kita juga perlu memiliki kemampuan untuk selalu membaca situasi, menyesuaikan diri, dan merakit prestasi. Survive and thrive. Bukan tidak mungkin, seorang mahasiswa yang lulus dengan pujian akan kalah bersaing jika tidak lincah dalam merintis karier di dunia kerja. Dalam konteks karier, menjadi adaptif dapat diartikan memiliki kemampuan responsif untuk menguasai keterampilan baru dan menyesuaikan diri dalam berbagai konteks (Charbonnier-Voirin, Akremi, dan Vandenberghe, 2010).

Sebagaimana sejarah dunia membuktikan, bukan bangsa yang terkuat yang bertahan, melainkan yang paling responsif menghadapi perubahan. Dengan ilustrasi itu maka bukanlah lulusan dengan IPK sempurna yang dijamin menjadi pemenang, melainkan mereka, para sarjana dengan kemampuan beradaptasi di berbagai situasi yang mampu membaca masa depan.

Artikel ini adalah nukilan dari sambutan Ketua Program Studi dalam Yudisium Program Studi Hubungan Internasional, 27 Januari 2020.