Categories
Reflection University

(Bukan) Dikotomi

Tidak jarang saya mendapati dosen di beberapa perguruan tinggi yang berkecil hati karena dinilai ‘salah jalan’ setelah memilih terlibat dalam urusan administrasi (baik jabatan struktural maupun kerja tim ad hoc) sembari merintis karier akademik. Sebagian orang berpendapat, kesuksesan karier dosen hanya dapat dirintis dengan fokus luaran individu sejak awal menjadi dosen baru: karyasiswa, jabatan fungsional, dan produktivitas akademik. Bagi pandangan ini, keterlibatan dalam urusan administrasi adalah pekerjaan yang wajib dijauhi.

Antara akademik dan administrasi

Keresahan hati sebagian dosen tersebut mengingatkan kita tentang hasil riset Benjamin Ginsberg (2011) yang menunjukkan bahwa dalam rentang waktu 1975-2005, cacah mahasiswa universitas di Amerika Serikat tumbuh 56%. Kondisi ini mendorong pertumbuhan cacah dosen yang juga naik 50%, dan yang menarik: cacah tenaga kependidikan melesat 240%, dan pejabat struktural melonjak 85%.Mengapa cacah tenaga kependidikan dan pejabat struktural menanjak begitu tinggi? Ginsberg menguraikan tiga alasan: 1) jumlah mahasiswa dan dosen yang terus meningkat; 2) tuntutan pemerintah dan lembaga akreditasi yang semakin tinggi untuk pencatatan dokumen; dan 3) perilaku dosen yang sering menganggap urusan administrasi sebagai tugas yang menjengkelkan, sehingga memungkinkan untuk dilakukan oleh orang lain.Lalu, bagaimana pendapat Ginsberg tentang dosen yang sebaiknya tidak perlu peduli terhadap urusan administrasi di universitas? Menurutnya, pandangan ini perlu diperbaiki. Berikut kutipan langsung argumen Ginsberg:

We were right in thinking that teaching and scholarship were far more important than administrative service. We were wrong, however, in succumbing to the temptation to shirk administrative service. While we worked on our books and taught our classes, our universities hired dozens of new vice provosts and associate provosts and hundreds of new deanlets. Administrators used our absence and the absence of some of our colleagues to strengthen their own managerial capabilities and their continuing capacity to circumvent and marginalize the faculty (2011, p.210).

undefined

Bagaimana menurut saya?

Saya sendiri lebih senang berpikir dari sisi yang cerah dan ringan: setiap dosen (semoga) sudah sadar, mereka tengah meniti karier dengan jalur masing-masing. Kalimat kuncinya: sejauh peran akademik dan administratif diorkestrasi dengan seimbang, capaian dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional bukanlah dua kutub yang dikotomis. Layaknya jalan menuju Roma yang dapat ditempuh dari berbagai kanal, kenapa energi kita harus bocor untuk meyakini bahwa cara kita merintis karier adalah yang satu-satunya ideal?.Dengan cara terbaik kita masing-masing, mari bersama mengarungi karier untuk membangun diri, institusi, dan negeri.